Pertanyaannya: "Apakah anda yakin beras yang anda beli adalah BERAS SEHAT?"

Untuk mengetahui lebih lanjut! Klik Disini

Padi unggulan berasal dari pertanian yang berkualitas

Beras merupakan makanan pokok bagi rakyat indonesia, oleh sebab itu mengapa peranan beras itu begitu penting untuk hidup kita!  Klilk disini untuk detailnya!

Family Healthy Rice merupakan Brand LOGO dari beras Premium

Kami menghadirkan kualitas terbaik dari beras pilihan untuk anda konsumen loyal kami.  Klik disini untuk detailnya!

Kualitas Beras, Bagaimana Seharusnya? (continue)

Mengenai manfaat beras, melanjutkan pemaparan dari Prof. Dr. Ir. Rindit Pambayun, M.P. seorang guru besar Ilmu Pangan Universitas Sriwijaya dalam artikelnya bahwa dalam metabolism karbohidrat, tanpa adanya vitamin B1 sebagai koenzim tiamin pirofosfat (TPP), pembentukan energy tidak sempurna. Meskipun mengkonsumsi sumber karbohidrat cukup, secara kuantitas makan beras membuat tubuh kenyang, tetapi alat pembongkarnya hingga menghasilkan energy tidak mencukupi. Akibatnya, energy tubuh dalam bentuk ATP (adenosine tri fosfat) menjadi kurang, tubuh menjadi loyo, malas berfikir, bawaan ngantyuk, syaraf tidak bekerja dengan baik. Melihat keadaan ini, hampir kebanyakan bangsa Indonesia yang hidup dalam kondisi miskin mengalami kekurangan vitamin B1.
Table 1. Manfaat Beras & Kandungan zat gizi beras pecah kulit dan beras giling

manfaat beras kandungn gizi Kualitas Beras, Bagaimana Seharusnya? (continue)

 

 

 

 

 

 

 

(Sumber: Champagne, 2004)

Ada argumentasi, vitamin B1 kan bisa disuplai dari makanan lain atau. Ingat, sekali lagi, sumber vitamin B1 adalah serealia, kamir, dan daging babi. Makanan lain bisa jadi mengandung vitamin B1, tetapi bukan merupakan sumber. Makan dengan lauk bervariasi yang lengkap, bisa mensuplai vitamin B1. Tetapi, menu makanan itu hanya dipunyai oleh sebagian kecil bangsa ini. Bagaimana dengan sebagian besar bangsa ini. Secara argumentative, mereka kekurangan vitamin ini, dan hidup dalam kondisi tidak optimal energinya. Penelitian singarimbun (1989) mengisyaratkan bahwa daya gerak orang Indonesia termasuk paling rendah di antara bangsa-bangsa di dunia. Kenyataan, jangan harap sepak bola kita bisa menjadi juara tanpa memperhatikan makanannya terutama yang berhubungan dengan suplai energi tubuh. Argument lain, kekurangan vitamin B1 bisa diatasi dengan cara meminum tablet vitamin B setiap hari. Boleh jadi ini jalan keluar, tetapi siapa yang akan tahan setiap hari harus “nguntal” pil vitamin B1? Sedemikian penting, keberadaan zat gizi dalam beras yang telah lengkap dari ”sononya” terutama keberadaan vitamin B1 harus menjadi perhatian serius.
Beberapa Negara telah sangat memperhatikan tentang keadaan ini. India, sudah jauh-jauh hari membuat beras parboil (disteam sebelum digiling). Beras demikian, endospermnya mengalami gelatinisasi membentuk perekat, sehingga lapisan kulit ari tetap menempel meskipun padi digiling. Negara lain seperti China, membuat beras premix dengan mengambalikan vitamin B1 yang telah hilang, dan ada yang mencoba menfortifikasinya. Yang lebih bijaksana adalah, melakukan proses penggilingan dengan bijak dan mencuci beras mencuci dengan benar di tingkat masyarakat.
Kendalanya, pengetahuan pangan masyarakat masih rendah. Mereka tidak suka beras yang masih ada kulit arinya karena cepat basi. Kalau mencucui tidak dikosek juga cepat basi. Ketahuilah, dalam ilmu pangan, semua yang bergizi pasti disukai oleh mikroorganisme, sehingga mudah basi. Tetapi bukan berarti kita menyerah dengan cara “bodoh”, mengilangkan nutrisi hanya mencari solusi menghindari cepat basi. Yang benar adalah zat gizi dipertahankan, cepat basi diatasi. Bukankah sekarang ada rice cooker? Atau memasak nasi sesuai porsi, sehingga tidak harus menyimpan dalam tempo relative lama.
Yang dikemukakan di sini adalah bentuk perhatian yang harus segera dipecahkan oleh pembuat kebijakan negeri ini. Saya ingin sekali membicarakan tentang kualitas beras pasca panen dan selama penyimpanan untuk menjaga kualitas. Tentang aflatoksin tidak kalah penting untuk dibicarakan, karena hamper sebagian besar masyarakat bangsa ini tidak memperhatikannya. Dunia luar sudah sangat care terhadap aflatoksin, sampai larangan dinaikkan persyaratannya menjadi ppb (part per billion), bukan lagi ppm (part mer million). Mengapa? Karena beras sangat riskan ditumbuhi Aspergillus flavus, jamur penghasil aflatoksin jika penyimpanannya dilakukan dalam kondisi tikak peduli aw(water activity, bukan kadar airnya).
Jadi bagaimana kualitas beras seharusnya? Jujur saja, jika disadari, kualitas akan jauh lebih penting dari pada memikirkan kuantitasnya. Sumatera Selatan jangan hanya menjadi lumbung pangan, tetapi lumbung pangan berkualitas, yang akan menjadi prototype seluruh propinsi di Indonesia. Memikirkan kuantitas tanpa memikirkan kualitas makanan pokok suatu bangsa, sama dengan “menggebiri” diri sendiri dengan hidup tanpa kreativitas, kurang gerak, tidak inovatif, dan pemalas. (Renungan diawal tahun 2011 yang harus dijadikan sebagai awal kebangkitan kepedulian pangan nasional, demi kemajuan bangsa).

 

Sumber:

http://bkp.sumselprov.go.id/upload/attachment/Bagaimana%20Beras%20Seharusnya____3433.pdf

Kualitas Beras, Bagaimana Seharusnya?

Menurut pemaparan dari Prof. Dr. Ir. Rindit Pambayun, M.P. seorang guru besar Ilmu Pangan Universitas Sriwijaya dalam artikelnya, beliau menjelaskan bahwa beras merupkan makanan sangat ideal, lengkap zat gizinya, dan sangat bagus karbohidratnya. Dengan memakan beras berkualitas sebanyak satu porsi (piring), kecukupan energy sudah dapat terpenuhi, dan zat gizi penting dapat diperoleh. Zat gizi beras terutama adalah karbohidrat, terdapat dalam endosperm. Zat gizi lainnya, meliputi protein, lipida, mineral, dan vitamin terdapat dalam lapisan kulit ari dan lembaga (Gambar 1). Vitamin yang paling penting dalam setiap bahan pangan sumber energy adalah tiamin atau vitamin B1.

Secara morfologi, padi terdiri dari beberapa bagian, yang paling penting hubungannya dengan kualitas beras adalah aleuron (kulit ari), lembaga, dan endosperm. Beras yang baik adalah yang masih memiliki lapisan kulit arid an aleuron, yang berarti masih memiliki zat gizi lengkap. Beras yang masih memiliki lapisan kulit ari dan lembaga, adalah beras pecah kulit. Beras pecah kulit bisa diperoleh dengan proses penumbukan atau proses penggilingan yang diatur sedemikian rupa (penggilingan dengan derajad giling dan derajad sosoh rendah), agar bagian kulit ari dan bagian lembaga tidak terbuang. Dengan demikian, zat gizi masih cukup tersedia dalam beras.

Manfaat Beras1 Kualitas Beras, Bagaimana Seharusnya?

Gambar 1. Morfologi padi, beras pecah kulit, dan beras giling

Kenyataannya, jarang dijumpai beras pecah kulit atau beras giling dengan penggilingan medium atau ringan. Yang lebih memprihatinkan adalah, produsen, konsumen, bahkan pemerintah lebih memilih dan menyarankan beras giling ketimbang beras pecah kulit. Beras giling, telah kehilangan zat gizi (Tabel 1). Yang lebih memprihatinkan, pemerintah merekomendasikan beras giling dengan derajad sosoh 90 persen (Tommy, 2010)? Beras yang demikian boleh dikatakan sebagai “beras telanjang” alias beras “tanpa gizi”, kecuali karbohidrat.

Keadaan akan diperparah, masyarakat tidak memiliki pengetahuan mengolah beras dengan baik. Mulai dari pencucian beras di tingkat rumah tangga, terjadi kesalahan sangat mendasar. Masyarakat mencucui beras biasanya dikosek sampai bagian lapisan kulit ari bersih. Tidak disadari, beras yang tinggal sedikit zat gizinya, mengalami “pembersihan” yang membabi-buta, sampai zat gizinya hilang sama sekali. Yang harus dipikirkan, bagaimana jika bangsa ini yang notabene makanan pokoknya beras, mengkonsumsi beras “tanpa gizi”.

Sangat dramatis, vitamin B1 dalam beras giling hilang sampai 80 %. Dengan kehilangan sebesar itu, beras yang merupakan sumber vitamin B1 (dalam ilmu pangan, sumber vitamin B1 hanya ada tiga, serealia alias padi-padian termasuk padi atau beras, sorgum, gandum, cantel, oat, wheat, dan jagung, kamir atau ragi, dan daging babi). hilang statusnya. Pencucian beras bisa menghilangkan vitamin B1 yang masih tersisa dari penggilingan dan penyosohan. Bisa dibayangkan, beras yang dikonsumsi hamper sebagian besar bangsa ini kekurangan vitamin B1.

Dalam metabolism karbohidrat, tanpa adanya vitamin B1 sebagai koenzim tiamin pirofosfat (TPP), pembentukan energy tidak sempurna. Meskipun mengkonsumsi sumber karbohidrat cukup, secara kuantitas makan beras membuat tubuh kenyang, tetapi alat pembongkarnya hingga menghasilkan energy tidak mencukupi. Akibatnya, energy tubuh dalam bentuk ATP (adenosine tri fosfat) menjadi kurang, tubuh menjadi loyo, malas berfikir, bawaan ngantyuk, syaraf tidak bekerja dengan baik. Melihat keadaan ini, hampir kebanyakan bangsa Indonesia yang hidup dalam kondisi miskin mengalami kekurangan vitamin B1.

 

Sumber:

http://bkp.sumselprov.go.id/upload/attachment/Bagaimana%20Beras%20Seharusnya____3433.pdf

Kandungan Beras

Beras Kandungan BerasBeras merupakan bagian dari bulir padi yang disebut gabah yang telah dipisahkan dari sekam. Sekam ini yang biasa juga disebut jawa merang secara anatomi juga disebut sebagai “palea” (bagian yang ditutupi) dan sebaliknya “lemma” (bagian yang menutupi).

Pemprosesan Padi setelah dipanen berlangsung secara beberapa tahap, salah satu tahapnya adalah gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. bagian isi ini berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, ini yang disebut dengan beras.

Kandungan Beras

Sama seperti dengan bulir “serealia” yang lain, sebagian besar beras didominasi oleh “pati” (sekitar 80%-85%). Pada bagian Aleuron yakni lapisan terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pimisahan kulit mengandung vitamin, selain itu dalam beras juga terdapat kandungan protein, mineral dan air. Read the rest of this entry

Harga Beras Naik Drastis

Harga beras naik Harga Beras Naik DrastisHarga beras naik dengan drastis, disusul harga sembilan bahan pokok di berbagai daerah juga merangkak naik. Seperti yang disampaikan harian Kompas bahwa kenaikan harga beras Rp 600 sampai dengan Rp 1000 per kilogram untuk sejumlah wilayah di Indonesia. Hal ini disebabkan berkurangnya pasokan akibat minimnya hasil panen raya dan gangguan hama (salah satunya serangan hama wereng) seiring berakhirnya masa panen memicu kenaikan harga tersebut. Menurut pengakuan para pedangang beras selain dikarenakan oleh kurangnya pasokan dari sejumlah daerah di Jatim misalnya, kenaikan harga beras juga disebabkan oleh permintaan yang melonjak menjelang hari Raya Ramadan. Read the rest of this entry

 Page 1 of 2  1  2 »